Kamis, 05 Juli 2012
Ketika Syair Mengabadikan Lafadz Mulia
PART 2#

            ”Assalamu’alaikum......” terdengar salam di luar pintu.
“Wa’alaikumussalam......eh, mas Zilal. Kok malam mas pulangnya? Ayah sama ibu nunggu lama tuh di ruang tengah.” Kata Aulia setelah ia membukakan pintu kakanya.
“Oh, iya dek.”
Setelah Zilal menuju kamar untuk menaruh tasnya, ia berlanjut ke ruang  tengah menemui orang-orang yang sangat ia cintai, ayah dan ibunya.
“Assalamu’alaikum.....” sambil mencium tangan ayah dan ibunya.
“Wa’alaikumussalam......kok lama nak pulangnya?”
”Maaf bu, setelah kuliah tadi saya  jenguk teman saya di rumah sakit.”
”Lain kali kalau mau pergi izin dulu ke rumah, telfon kan bisa.” kata ayahnya.
”Iya ayah maaf. Tadi keburu jadi ndak sempat telfon.”
”Ya sudah, ndak papa.”
”Yah, apa tadi ada telfon dari redaksi?”
Memang, selain kuliah Zilal juga mengisi waktunya dengan menulis artikel-artikel yang akan dikirimkan ke redaksi majalah Al- Hikmah
”Ndak ada Zil. Memang kenapa?”
”Ndak papa yah. Zilal ke kamar dulu ya yah, bu.”
”Iya nak.”
Dikamarnya, Aulia sedang menulis rangkaian huruf-huruf yang akan dijadikan ramuan dalam artikelnya. Kakak beradik itu memang berhobi sama, sama-sama menyukai artikel. Tapi sayang, Aulia hanya menuangkan kegemarannya dalam bentuk hobi saja. Tidak seperti Zilal, ia mengirimkan hasil artikelnya untuk dimuat dalam majalah.
Keesokan harinya, seperti biasa Aulia berangkat ke sekolah di antar oleh kakaknya. Ia tidak diperbolehkan dahulu membawa sepeda motor walaupun ia sudah meyakinkan orang tuanya bahwa ia bisa. Tapi apa boleh buat, perintah orang tua harus diikuti asalkan tidak mengandung perintah yang dilarang oleh islam. Di sekolah, Aulia terkenal anak yang jenius, suka menolong dan baik budinya. Tak salah kalau teman laki-lakinya banyak yang mengagumi.
Dulu ada salah satu temannya laki-laki yang mengungkapkan hatinya lewat puisi. Salah satunya. . . . .
Begitu sempurna akan ciptaannya
Hingga tercipta nisa’ sesempurna dirimu
Memang tak ada yang sempurna didunia yang fana ini
Tapi menurut diriku
Kaulah salah satu bidadari dunia
Yang tercipta untukku......
Tapi Aulia menolaknya, sebab ia berpikir ia masih belum cukup umur untuk berpacaran. Orang tuanya juga melarang sebab itu hanya bisa mengganggu kegiatan belajarnya.
Bel pulang berbunyi. Tak terasa waktu begitu cepat dan rasa lelah mulai terasa merebah badan, lapar dan dahaga pun mulai menyeruak keseluruh tubuh.
Lelah Aulia berjalan. Ia letakkan tas diatas meja. Ia rebahkan badannya diatas kasur. Ia bangkit sejenak tuk membuka jendela.
Semilir angin berhembus melewati jendela kamar yang terbuka. Partikel-partikel cahaya masuk melalui celah-celah atap rumah. Seakan membuat pikiran adem.........
Huh! Sungguh hari yang melelahkan.
Sesaat ia teringat dengan sepucuk surat yang ia temukan dijalan menuju perpustakaan tadi siang di sekolah. Seraya ia bangkit dari tidurnya dan mengambil surat itu di dalam tasnya.
Perlahan ia membuka lipatan kertas yang berisikan........

Aku sendiri di malam ini
Tak pernah ku isi dengan sesuatu yang berarti
Merenung di kegelapan dibilik yang sunyi
Tulus hanya kau teman pengisi sunyi
          Kutemukan.....
          Sebuah nama dalam kesunyian
          Berselimut kekuatan
          Memancarkan keagungan
Kubaca .....
Segala misal perumpamaan
Pengajaran
Teguran
Yang mengingatkan
Hati insan yang penuh kekhilafan
                                                             Q-A2SYA

Ia baca dari awal sampai akhir. Betapa kagumnya ia dengan puisi itu. Ada sesuatu yang bergetar dalam hatinya ketika membaca puisi itu. Disisi lain ia terkejut ketika melihat nama si penulis.  Q – A2sya.
Mengapa ia memakai nama pena? Kenapa bukan nama asli? Huh! Jadi penasaran. Ucapnya dalam hati.
Kemudian ia lipat kembali kertas yang berisikan puisi itu dan menaruhnya di laci meja belajar.
Malam harinya seperti biasa, setelah makan malam ia langsung menuju kamarnya untuk belajar. Ia baca sederetan soal-soal dan mencoba untuk menjawabnya. Ia tuliskan suatu kalimat di catatan ponselnya yang memungkinkan dia untuk bisa selalu mengingatnya. Sebuah kalimat yang menjadi momok bagi para siswa dalam akhir tahun pembelajarannya. UNAS. Mungkin, bagi siswa yang pintar itu hal yang mudah. Tapi jangan salah, malah banyak siswa yang pintar yang tidak lulus dalam ujian tersebut.
Bagi Aulia, belajar dan berdo’a itu adalah kunci dari sukses
”Aulia!” suara ibunya dari luar terdengar keras memanggil.
”Ya bu!”
”Sini  sebentar nak! Ayah sama ibu mau bicara.”
Ia bergegas keluar kamar menuju orang-orang tersayang dalam hatinya. Ia tak mau membuat orang tuanya menunggu lama.
”Ada apa yah, bu?”
”Gini nak. Tak lama kamu kan lulus, setelah itu kamu mau melanjutkan kemana nduk?” ayahnya memulai pembicaraan.
”Terserah ayah sama ibu saya mau dikuliahkan kemana.”
”Gimana kalau kuliah di Universitasnya mas?”
”Terserah ibu, saya setuju kok. Tapi disisi lain saya juga ingin dipondok bu”
”Di pondok???” jawab orang tuanya bersamaan. Mereka heran mengapa tiba-tiba anak kedua mereka itu ingin tinggal dipondok.
”Ya sudah. Insya Allah besok kami rundingkan dulu nduk.”
”Tapi yah, kalau saya kuliah izinkan untuk bawa motor sendiri ya, yah?”
”Bagaimana menurut ibu?”
”Kalau ibu sih terserah ayah saja.”
”Mmm. . . . .”
”Ayolah yah.....” sambil merayu
”Baiklah, tapi janji ! anak ayah nggak boleh kebut-kebutan.”
”Oke yah. Terima kasih.”
Setelah pembicaraan selesai, ia menghampiri kamar kakaknya yang tidak jauh dari kamarnya.
”Maass.....” ia ketuk pintunya.
”Iya dek, masuk.”
”Mas ngapain??”
”Lagi buat artikel buat dikirim ke redaksi. Tumben kamu kesini? Kayaknya adek kakak lagi seneng banget ya?? Senyam-senyum terus.”
”Gini mas, kuliah nanti Aulia boleh bawa motor sendiri.”
“Alhamdulillah kalau begitu. Berarti mas gak capek-capek lagi nganterin kamu.”
Aulia cemberut. Memang ia kasihan kepada kakaknya yang selama 3 tahun mengantarkannya. Pernah, ia bangun kesiangan dan kakaknya harus berangkat lebih pagi karena ada kegiatan dikampusnya, tetapi dengan setia ia menunggu adiknya. Pada saat itu Aulia merasa bersalah pada kakaknya dan berjanji tidak akan mengulangi.
”Maaf dek, suma bercanda kok. Apa sih yang enggak buat adekku tersayang.” Sambil mengelus-elus kepalanya.
“Trima kasih ya kak.” merangkulnya dengan penuh cinta.
”Sama-sama adekku. By the way kamu gak belajar?”
“Belajar kak. Adek masih pengen mengistirahatkan otak dulu. Biar nggak terlalu stress dengan pelajaran yang begitu rumit.” Sambil ia melihat-lihat hasil karya kakaknya dilayar monitor komputer.
“Emang gimana tadi pelajarannya?”
“Sulit sekali kak. apalagi matematika yang golongannya peluang, statistik. Haduh….bikin pusing kepala.”
“Oh…mengulang pelajaran kelas dua ya? Namanya juga relajar dek. Lama-lama kamu bisa kok. Semangat. Jangan gampang menyerah hanya dengan pelajaran seperti itu. Memang kalau otakmu lagi nggak fresh, pelajaran akan nggak masuk kesana. Jadi buat enjoy aja.”
“Iya kak. Bagus-bagus karya sampean. Kapan-kapan aku diajari ya kak buat artikel.”
”Iya, insya Allah. Udah sana, kembali ke kamar. Belajar yang giat.” 

0 komentar:

Posting Komentar